Selamat Datang di Aqwam

Mau Jadi Ikon Kapitalisme (?) Cetak halaman ini
Oleh: Fahrur Mu'is
Penulis dan Editor Buku Islam


Beberapa hari sebelum menulis materi ini, saya diminta mengisi sebuah forum kecil di Solo tentang bagaimana menerjemahkan buku Arab ke Indonesia. Sekilas, saya memandang para peserta sangat bersemangat. Meskipun, jumlah mereka tak melebihi hitungan jari. Mereka ingin andil berdakwah melalui dunia penerjemahan buku-buku Islam. Saya kagum dengan ketulusan niat mereka. Selang empat hari kemudian, ada seorang teman yang bergelut di dunia pemasaran buku menyampaikan keprihatinannya kepada saya. Setelah bersilaturahmi ke beberapa agen buku, katanya, ia dikejutkan oleh sebuah fenomena. Begitu sampai di tempat tujuan, ia langsung ditodong para agen dengan pertanyaan, "Mas, jauh-jauh ke sini mau ngasih diskon berapa?"

Ya, sebuah pertanyaan—yang menurutnya—mengikuti madzhab kapitalisme dan jauh dari dakwah islamiyah. Padahal, ia menambahi, buku-buku tersebut berisi ajaran Islam yang harus didakwahkan. Sayang, jika kedatangannya hanya diasumsikan murni sebagai pegiat bisnis. Ia takut jika orang yang seprofesinya dengannya, tak lebih dari keledai yang memikul buku ke sana kemari tanpa tahu maksud dan kandungannya.

***

Sengaja dua kisah di atas saya sampaikan dalam tulisan ini. Saya berharap tak ada kapitalisme yang berkedok agama. Karena memang banyak kepentingan yang diatasnamakan agama. Memang, agama takkan bisa dibungkus dengan kapitalisme, tapi tidak demikian dengan kapitalisme. Ia bisa masuk ke mana saja.

Kisah pertama menunjukkan bahwa niat awal menerbitkan buku atau mengindonesiakan buku Arab adalah membantu orang lain untuk memahami agamanya. Dalam bahasa agama ia dikenal dengan dakwah. Namun, seiring dengan perkembangannya, sebagaimana dalam kisah kedua, nilai kapitalisme lebih dominan daripada semangat menyebarkan rahmat ke seluruh alam.

Saya berharap semua pihak dalam dunia perbukuan tidak menjadi alat bagi pihak yang lain, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Penerbit, agen, dan pembaca bukan alat siapa-siapa. Kita ingin seluruh pihak memosisikan dirinya sebagai partner bagi yang lain dalam kebaikan dan takwa. Bukan sebagai alat atau ikon kapitalisme.
Favorit-kan! (53) | Kutip ke dalam situs anda | Dilihat: 489

  Komentar (4)
Komentar oleh: zakia, pada 23-05-2007 21:09
ah, itu tak semua. tinggal macam mana orangnya :sigh
Komentar oleh: zakia website, pada 23-05-2007 21:14
kapitalisme tak sobek-sobek :(
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya website, pada 31-08-2007 00:51
Luruskan niat di awal, saat mengerjakan, sampai ajal menjemput hanya untuk mengapai ridho-Nya.
lha..
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya , pada 03-10-2007 14:18
bang la liat orangnya juga, lait mobilnya, liat rumahnya, liat karyawannya, liat perkataannta, liat amalnya, liat infaqnya 
ya liat2 lah..... 
kapitalis no bang

  • Silakan memberi komentar yang sesuai dengan artikel.
  • Komentar menggunakan bahasa yang sopan, baik, dan tidak menyinggung orang lain.
  • Semua komentar akan dimoderasi.
  • *Refresh* browser anda untuk mendapatkan kode keamanan yang baru, jika anda kesulitan melihat kode keamanan yang ditampilkan.
Nama:
E-mail:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
Beritahu saya jika ada komentar baru