Selamat Datang di Aqwam

Judul Pun Perlu Etika Cetak halaman ini

Fahrur Mu'is
Penulis dan Editor Buku Islam

 


Fahrur MuisKetika terbit buku yang berjudul Dajjal 'Sudah' Muncul dari Khurasan, banyak orang yang mengeluh kepada saya. Kata mereka, dengan setengah tidak percaya, "Mas, apa betul Dajjal sudah muncul? Terus, sekarang di mana?" Bahkan, saking takutnya, ada seorang pembaca yang datang ke penerbit minta dituliskan doa-doa penangkal Dajjal. 

 

Menarik. Karena judul tersebut berhasil menyedot perhatian pembaca. Tapi sayang, ketika ditanyakan ke hati nurani, secara jujur dan jelas ternyata judul tersebut sedikit mengelabui. Meskipun, itu adalah keputusan pemasaran dan penerbit telah memberi tanda kutip tunggal pada kata 'Sudah' yang pada cetakan berikutnya diberi keterangan baca: 'Sudah Pasti' sebagai bentuk pertanggung jawaban. Diakui ataupun tidak, demikianlah adanya karena kata 'Sudah' tak bisa ditafsiri. 

Sebulan kemudian, saya diminta oleh para mahasiwa UNS untuk menjadi moderator dalam acara bedah buku Sudah Munculkah Dajjal, Ya'juj & Ma'juj? Sekali lagi, banyak pihak yang menyampaikan kepada saya bahwa judul tersebut latah dan dipaksakan. Modal numpang. 

Ternyata, fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada buku-buku pemikiran, tetapi juga telah merambah pada buku-buku hiburan. Ambil saja contohnya buku Misteri Shalat Subuh yang dibantah 'gila-gilaan' oleh buku Menguak Misteri Shalat Subuh. Bahkan, ketika saya ingin menulis buku, saya betul-betul kaget. Mengapa? Karena ternyata buku bantahannya sudah terbit duluan. 

Tidak hanya itu. Judul yang asal numpang alias ikut-ikutan juga banyak. Baru-baru ini saya dicurhati oleh teman sesama penulis yang judul bukunya juga mengalami nasib yang sama. Bedanya dengan saya, bukunya sudah terbit dahulu kemudian baru 'ditumpangi'. 

Akhlak penjudulan. Itu yang mau saya sampaikan di sini. Saya tahu bahwa itu semua ada ilmunya dalam buku-buku refrensi tentang penulisan. Tapi, ada yang perlu kita ingat: apakah itu adalah cara orang beriman ataukah tidak. Jangan-jangan itu adalah jalan orang-orang di luar Islam yang menghalalkan segala cara. Apakah demi segepok uang kita tega 'sedikit' membohongi? Apakah karena ingin mengejar perdikat bestseller kita abaikan akhlak islami? Mari bertanya pada hati kecil kita. Sekali lagi, di sini saya mewakili keresahan sebagian pembaca, bukan bermaksud apa-apa. 

Favorit-kan! (60) | Kutip ke dalam situs anda | Dilihat: 889

  Komentar (11)
Komentar oleh: reza, pada 07-06-2007 19:11
:sori bozzzz, itu terlalu keras
Memprihatinkan...
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya , pada 09-06-2007 14:37
Udah nyari judul susah, pake rapat, nyepi di villa, kalo perlu makan di restoran, ngobrol ma orang yg lebih expert, tanya sana tanya sihi, setelah dapet. Eh dijiplak! Terusin nulisnya bang muis...
Komentar oleh: taufik, pada 08-06-2007 15:40
itu kan tergantung kreativitas, gitu saja kok repot. tantangannya, bagaimana bisa kreatif yang tetap islami
Komentar oleh: rifai, pada 12-06-2007 16:51
:saya juga pernah mengikuti bedah buku dunia segera hancur, tapi isinya malah tentang kehidupan setelah mati. bagaimana ini pak redaksi?
Sudah diperingatkan dan sudah ganti judu
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya , pada 22-06-2007 13:47
Setelah banyak mendapat peringatan, wal hasil mereka ganti judul... Fitnah Peteka Akhir Zaman, bukan lagi Dajjal \"Sudah Pasti\" Muncul, saya sendiri pernah mendebatnya di bedah buku di YARSIS beberapa bulan yang lalu, akhirnya tim pemasaran sadar dan mau nenerima, yah ok lah, sekarang best seller nya bisa bikin lega. :cry :roll :grin
Komentar oleh: tholl website, pada 17-07-2007 11:54
prihatin :grin
Komentar oleh: burhanshadiq, pada 18-07-2007 00:13
fitnah petaka mah buku yg lain atuh akang...bukan ganti judul hehehe...
Komentar oleh: U Nee, pada 21-08-2007 15:24
Kalau judul beda tapi buku sama, gimana tuh mang? 8)
Luruskan Niat
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya website, pada 31-08-2007 01:03
Hal tersebut tidak akan terjadi kalau semua komponen dari penerbit senantiasa meluruskan niat dalam menerbitkan buku Islam. Bukankah dalam hal ini kita niatkan agar ilmu Islam ini tersebar dan mudah didapatkan oleh massyarakat. Artinya bukan biar heboh dan terkenal. Ad Dien adalah nasehat, maka mari kita luruskan niat kita jangan sampai berubah jadi kapitali berwajah Islam kayak tulisan mas Fahrur yg sebelah ttp://www.aqwam.com/mau-jadi-ikon-kapitalisme-2.html.
bagus bang topiknya
Komentar oleh: Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya , pada 02-10-2007 14:59
bagus bang, biar tidak melulu masalah strategi pemasaran, lha kalau menyesatkan kita kan jadi bingung, ya tho. :cry