Selamat Datang di Aqwam

Iming-iming Bagi Yang Sabar Menghadapi Musibah Cetak halaman ini

Judul Buku:

Mari Bersabar, Tuntunan Bersabar dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Penulis:

Amru Khalid

 

Penerbit:

Aqwam, Solo.

Cetakan Pertama,

Pebruari 2006

 

Tebal Buku:

119+xvi

Ketika membaca judul tulisan di atas, barangkali bayangan kita langsung tertuju pada musibah bangsa Indonesia yang sejak beberapa tahun terakhir ini selalu datang silih berganti. Mulai dari gempa dan tsunami di Aceh, disusul beberapa gempa susulan di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Kemudian musibah banjir banding yang menelan tidak sedikit korban, sampai kasus meletusnya gunung Merapi, gempa Yogyakarta, dan tsunami di kawasan pantai selatan Jawa.

 

Apalagi ketika kita membaca sampul belakang buku ini. Di sana diawali dengan permintaan lautan, gunung, dan bumi, yang secara lengkap dapat kit abaca di halaman 26: Pada setiap hari, lautan meminta izin kepada Allah dan berkata “Wahai Rabbi, perkenankanlah aku menenggalamkan umat manusia. Seseungguhnya mereka menikmati rezeki-Mu, tetapi mereka menyembah kepada selain-Mu!”. Gunung-gunung yang kokoh juga berkata, Wahai Rabbku, perkenankanlah aku memusnahkan umat manusia. Sesungguhnya mereka menikmati rezeki-Mu, teteapi mereka menyembah kepada selain-Mu!”. Bumi pun angkat bicara, “Wahai rabbku, perkenankanlah aku menelan umat manusia. Sesungguhnya mereka menikmati rezeki-Mu, tetapi mereka menyembah kepada selain-Mu!”

 

Namun ternyata dugaan kita tidaklah tepat, karena penulis buku itu lebih berfokus pada musibah yang bersifat pribadi, seperti kematian sanak famili anak, istri, suami, sudara tercinta, orang tua, mertua, dan kerabat lainnya. Atau juga sabar dalam menghadapi sakit, serta menghadapi perilaku jahat orang lain.

 

Walau demikian, kiranya pembaca buku ini tidaklah perlu kecewa. Sebab, selain musibah berupa bencana alam yang bersifat global seperti gempa bumi, tanah longsor, dan sebagainya yang mungkin tidak menimpa diri kita, kita juga akan menemui musibah yang diangkat dala buku ini, karena mesti dialami setiap pribadi manusia. Kita pasti akan kehilangan orang-orang yang kita cintai. Kita juga pasti akan merasakan sakit. Minimal keletihan atau kecapaian seperti yang terdapat dalam hadits Nabi yang dikutip dalam buku ini halaman 62.

“Setiap keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, perlakuan jahat dan kegalauan yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya sekali[un, semua itu akan menyebabkan Allah menghapuskan kesalahan (dosa-dosanya).” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahamd).

 

Iming-iming

Iming-iming Allah bagi orang yang sabar ditimpa kematian sanak keluarganya dapat dilihat di halaman 46 hingga 49. Di antaranya diesbutkan, bahwa kalau ada perempuan yang mempunyai tiga atau dua anak yang meninggal dunia, sedang dia sendiri masih hidup, maka balasannya adalah perolehan perisai dari api neraka.

Dalam bagian lain disebutkan, siapa saja manusia yang kita cintai di dunia ini, baik itu ibu, bapak, saudara, itsri, paman, bibi, teman karib, guru, atau yang lainnya meninggal dunia dan kita sabar serta tabah hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka kita akan memperoleh surga.

 

Sedangkan iming-iming bagi orang yang sabar dalam menderita sakit, di antaranya seperti yang tersebut dalam hadits di atas ( tiga alinea sebelum ini), yakni dapat menghapus dosa. Jangankan sakit yang berat-berat, keletihan, atau kecapaian, kegelisahan, kesedihan, kegalauan, dan bahkan duri yang menusuk tubuh kita, semuanya akan menyebabkan Allah menghapus dosa-dosa kita.

 

Malahan sakit demampun dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari JabIr bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjumpai Ummu As-Sa’ib dan bersabda:”Wahai Ummu As-Sa’ib, mengapa kamu berjalan agak lunglai?” Dia berkata: “saya sedang demam, semoga Allah mengenyahkanya”. Beliau bersabda:”jangan kamu mencela penyakit demam, karena ia dapat menghapus kesalahan manusia, sebagaimana semburan api menghilangkan karat besi”. (HR. Muslim)

 

Sementara itu, musibah lain disebutkan dalam buku ini adalah perlakuan jahat orang lain. Dalam hal ini, kita pun diharapkan untuk bersabar terhadap para pedagang yang mengecam dengan lisan mereka, dan sabar terhadap para penjaga yang sulit berinteraksi.

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Saat Allah menghimpun seluruh makhluk pada hari kiamat, salah satu penyeru akan menyerukan ‘Berdirilah orang-orang yang mempunyai keutamaan (kebaikan)!’ Maka mereka pun berdiri dan jumlah mereka sangat sedikit. Dengan serta merta mereka berjalan menuju surga, tetapi para malaikat menghentikan langkah mereka dan bertanya: ‘Siapa kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang memiliki keutamaan’. Para malaikat bertanya lagi: ‘Apa keutamaan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Apabila kami dizalimi, kami sabar. Dan apabila kami diperlakukan dengan jahat, kami memaafkan. Dan jika kami dizalimi, kami bersikap lemah lembut’. Maka para malaikat bertanya kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga, dia adalah balasan yang terbaik bagi orang-orang yang melakukan amal kebaikan’”.

 

Iming-iming lainnya bagi orang yang sabar dapat dibaca pada sub judul ‘hikmah di balik kesabaran’ (halaman 57 – 64). Diantaranya disebutkan bahwa jika kita sabar dalam menghadapi musibah tersebut, maka kita akan ditinggikan derajatnya (halaman 58), diberikan derajat yang istimewa (halaman 56 – 59), tidak dijangkiti penyakit sombong dan tertipu (halaman 59 – 60), agar merindukan surga (halaman 60), agar tidak melupakan Allah, supaya mengetahui bahwa Allah Zat Yang Maha Kuat (hal 61), karena Allah mencintai kita (hal 61 – 62).

 

Dalam buku ini pula ditunjukkan contoh teladan dari orang-orang yang sabar, seperti Nabi Ayub ‘Alaihissalam dan tokoh-tokoh lain. Selain itu, juga disebutkan syarat-syarat sabar terhadap musibah. Sementara itu, selain sabar dalam menghadapi musibah, dalam buku ini akan kita temukan bahasan mengenai sabar dalam menahan maksiat, sabar dalam mentaati perintah Allah, dan ada opsi pilihan kesabaran, seperti sabar terhadap cobaan, sabar dalam ketaatan, ataukah sabar menahan kemaksiatan. Kesabaran Nabi Yusuf ketika dimasukkan ke dalam sumur tua, atau kesabarannya ketika dijebloskan ke penjara? Sabar dalam ketaatn atau sabar menahan kemaksiatan

 Peresensi: 

Drs. H. Choirul Anam

Imam Rawatib dan Pembina TPA Masjid Hidayatullah Kandangan, Surabaya